Selayang Pandang
1. Eksistensi dan Identitas
Ma’had Aly Idrisiyyah merupakan institusi pendidikan tinggi pesantren yang berdiri kokoh di jantung peradaban Tarekat Idrisiyyah, tepatnya di Kp. Pagendingan, Desa Jatihurip, Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Berlokasi strategis di sisi Jalan Nasional Tasikmalaya-Ciawi, lembaga ini resmi meluncur secara formal pada tahun 2018 dengan mengusung spesialisasi (Takhassus) Tasawuf wa Thariqatuhu.
2. Paradigma Keilmuan: Neosufisme Integratif
Ma’had Aly Idrisiyyah mengambil konsentrasi Neosufisme, sebuah pendekatan tasawuf kontemporer yang moderat dan aplikatif. Paradigma ini berfungsi sebagai:
- Filter Ideologis: Memurnikan ajaran tasawuf dari pemahaman yang menyimpang dan memastikan keselarasan penuh dengan Aqidah Ahlussunah wal Jama’ah serta Syari’ah Islam.
- Ruh Keilmuan: Menjadikan tasawuf sebagai intisari dari seluruh cabang ilmu pengetahuan.
- Media Transformasi: Menjadikan tarekat sebagai instrumen nyata untuk perbaikan kondisi umat (islah al-ummah).
Kurikulum yang diterapkan mengintegrasikan pilar-pilar agama (Arkanuddin) yang meliputi ilmu Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf, yang kemudian diperkaya dengan wawasan Psikologi, Psikoterapi, serta Manajemen Zawiyah Tarekat.
3. Akar Sejarah dan Mata Rantai Sanad
Cikal bakal Ma’had Aly ini merupakan warisan intelektual yang bermula sejak tahun 1934 di masa Syekh Akbar Abdul Fattah (Mursyid I). Beliau memelopori pengajian ulama yang mempertemukan para ajengan se-Jawa Barat dan Banten, melahirkan 56 tokoh besar yang menjadi pimpinan pesantren, hakim, hingga pejabat keagamaan.
Tradisi ini kemudian diperkuat melalui program Santri Takhassus di era Syekh Akbar Muhammad Dahlan (Mursyid II), hingga akhirnya bertransformasi menjadi bentuk formal Ma’had Aly di bawah kepemimpinan Syekh Akbar Muhammad Fathurrahman (Mursyid IV).
Di masa kini, kemitraan strategis dan jejaring intelektual Ma’had Aly Idrisiyyah telah meluas, merangkul tokoh-tokoh besar seperti mantan Rektor UIN, Ketua MUI, hingga para akademisi dan kepala daerah yang juga menjadi murid tarekat, mempertegas posisi Idrisiyyah sebagai titik temu antara ulama, umara, dan akademisi.
4. Tradisi Intelektual dan Aktivitas Akademis
Denyut nadi keilmuan di Ma’had Aly Idrisiyyah terpancar melalui mata rantai transmisi ilmu yang dipandu langsung oleh Syekh Akbar Muhammad Fathurrahman. Kehadiran beliau sebagai pembimbing utama dalam berbagai forum memastikan sanad keilmuan dan spiritualitas tetap terjaga secara autentik:
- Forum Ulama Regional: Kajian kitab Syarah Hikam Ibn ‘Atha`illah asSakandari dan I’anah at-Thalibin yang dihadiri oleh para ajengan seKecamatan Cisayong. Forum ini menjadi ruang dialektika fiqih dan tasawuf bagi para kiai setempat, para dosen dan mahasantri.
- Jejaring Nasional (Kajian Online): Pengasuhan kitab al-Anwar al-Qudsiyyah fi Ma’rifati Qawa’id as-Shufiyyah setiap malam Kamis. Forum digital ini menjembatani para pimpinan pesantren, murid tarekat dari seluruh penjuru Indonesia, dan para mahasantri untuk mendalami kaidah-kaidah tasawuf.
- Akademis Internal: Kajian Ilmiah setiap Rabu pagi yang dikhususkan bagi para dosen dan mahasantri Ma’had Aly. Forum ini dirancang untuk mempertajam nalar kritis-akademis mahasantri dalam bingkai spiritualitas tarekat.